Ansel Easton Adams (lahir di San Francisco, California, 2 Agustus 1902 – meninggal 4 Oktober 1984  pada umur 82 tahun) adalah fotografer  Amerika Serikat dan seorang aktivis lingkungan yang dikenal dengan foto-foto hitam putihnya mengenai Amerika Serikat Barat, khususnya Taman Nasional Yosemite. Salah satu dari foto terkenalnya adalah Moonrise, Hernandez, New Mexico.

Bersama Fred Archer, Adams mengembangkan sistem zona sebagai cara menentukan eksposur yang paling tepat, dan menyesuaikan kontras hasil cetakan. Adams biasanya menggunakan kamera format besar. Meskipun ukurannya besar, berat, perlu waktu untuk pemasangan, dan harga filmnya mahal, kamera format besar menghasilkan foto resolusi tinggi dan tajam.

Adams mendirikan Group f/64 bersama rekan-rekannya sesama fotografer, Edward Weston and Imogen Cunningham. Koleksi paling lengkap dari fotografer Group f/64 kini dimiliki oleh Center for Creative Photography dan Museum Seni Modern San Francisco. Foto-foto Adams telah menjadi abadi dan banyak direproduksi untuk kalender, poster, dan buku.

Kehidupan pribadi
Masa kecil
Adams lahir sebagai anak tunggal dari Charles dan Olive Adams di Western Addition, San Francisco, California. Kedua orang tuanya berasal dari kalangan atas, dan ia diberi nama Ansel seperti nama salah seorang pamannya, Ansel Easton. Keluarga Adams berasal dari New England, moyangnya berimigrasi dari utara Irlandia ke Amerika Serikat pada awal 1700-an, namun tidak ada hubungan kekerabatan dengan keluarga Presiden Adams. Kakeknya mendirikan bisnis penebangan kayu yang sukses. Perusahaan tersebut kemudian dijalankan oleh ayahnya, walaupun ayahnya lebih berbakat di bidang sains daripada bisnis. Ansel Adams di kemudian hari mengecam industri penebangan kayu yang dianggapnya telah terlalu banyak menebang hutan-hutan pohon redwood yang menakjubkan.[1]

Keluarga ibunya berasal dari Baltimore. Kakek dari pihak ibunya pernah memiliki bisnis jasa angkutan barang yang sukses, namun menghambur-hamburkan kekayaannya di bidang pertambangan dan realestat yang gagal di Nevada.[2]

Ansel Adams lahir di rumah, di tempat tidur orang tuanya. Ketika berusia empat tahun, ia terlempar dengan wajah membentur dinding kebun akibat gempa susulan ketika terjadi gempa bumi San Francisco 1906. Akibat benturan tersebut, hidungnya patah. Di antara ingatan masa kecilnya adalah pemandangan api yang sedang melalap sebagian besar kota San Francisco yang hanya beberapa mil jauhnya. Hidungnya yang patah dan miring ke kiri tidak pernah diperbaiki, dan tetap bengkok sepanjang hidupnya.[3]

Adams adalah anak hiperaktif dan cenderung sering sakit. Ia hanya memiliki sedikit teman, tapi keluarga di rumah dan lingkungan sekitarnya di bukit yang menghadap ke Teluk San Francisco cukup membuatnya sibuk di masa kanak-kanak. Meskipun tidak senang dengan permainan dan olahraga, ia tumbuh sebagai anak yang serba ingin tahu, dan menyenangi alam sejak usia dini. Ia senang mengumpulkan serangga dan menjelajahi pantai yang berdekatan.[4] Ayahnya membeli teleskop dan keduanya senang bermain teleskop bersama. Kedua orang tuanya mengajarkannya untuk mengikuti ide-ide Ralph Waldo Emerson, untuk hidup sederhana, kehidupan moral yang dipandu tanggung jawab sosial kepada manusia dan alam.[5]

Setelah kakeknya meninggal dunia dan peristiwa Panik 1907, bisnis ayahnya menderita kerugian finansial yang besar. Pada tahun 1912, standar hidup keluarga telah menurun tajam.[6] Ansel muda dipecat dari beberapa sekolah swasta akibat sering membuat ribut dan tidak memperhatikan pelajaran. Pada tahun 1915, ketika ia masih berusia 12 tahun, ayahnya memutuskan agar ia berhenti saja sekolah. Adams kemudian bersekolah di rumah dengan mendatangkan guru-guru privat, juga bibinya sendiri yang bernama Bibi Mary, dan oleh ayahnya. Selama Pameran Internasional Panama-Pasifik 1915, sang ayah memaksa Adams untuk menghabiskan sebagian besar waktunya dalam sehari untuk mempelajari barang-barang pameran.[7] Beberapa lama kemudian, Adams melanjutkan sekolah, dan menyelesaikan pendidikan formalnya dengan menghadiri sekolah swasta lainnya hingga kelas delapan.


Referensi
   1. ^ Alinder, Mary Street, 1996. Ansel Adams: a Biography. New York: Henry Holt and Co. ISBN 0-8050-4116-8, p. 4.
   2. ^ Ansel Adams, 1983a. Ansel Adams: An Autobiography. Boston: Little, Brown and Co. ISBN 0-8212-1596-5, p. 4
   3. ^ Sierra Club Biography. Sierra Club. Diakses pada 12 Februari 2007
   4. ^ Adams, 1983a, p. 14.
   5. ^ Alinder, 1996, p. 11.
   6. ^ Alinder, 1996, p. 9.
   7. ^ Adams, 1983a, p. 18.


referensi dari http://id.wikipedia.org/wiki/Ansel_Adams
 
 

TATA CARA PERNIKAHAN ADAT SUNDA

I . Upacara Adat Sunda Pra Pernikahan
 
1. Neundeun Omong 
Dalam pelaksanaan neundeun omong, kebiasaan yang berlaku adalah sebagai berikut :
Pihak orang tua calon pengantin laki-laki bertamu kepada calon besan (calon pengantin perempuan) dengan maksud dan tujuan untuk menanyakan bahwa anak perempuan mereka sudah mempunyai jodoh atau belum. Pertemuan dan perbincangan ini dalam suasana santai penuh canda tawa, sambil sesekali diselingi pertanyaan yang bersifat “menyelidiki” status anak perempuannya apakah sudah ada yang melamar atau atau masih belum punya calon pasangan. Demikian pula pihak orangtua perempuan pun dalam menjawab pertanyaan tamunya dilakukan dengan penuh canda, tawa, banyolan dan siloka. Hal ini dilakukan untuk mencairkan suasana dan membuat kedua keluarga bertambah akrab.
Di beberapa daerah di wilayah Pasundan kandang-kadang ada yang menggunakan cara dengan saling mengirimi barang tertentu. Sebagai contoh, orangtua pihak laki-laki mengirim rokok cerutu kepada orangtua pihak perempuan. Apabila pihak perempuan mengerti dengan maksud serta isyarat tersebut dan menyetujuinya, maka mereka akan segera membalasnya dengan mengirimkan “benih labu siem (binih waluh siem)”. Dengan demikian, maka pihak perempuannya  itu sudah diteundeunan omong.
Sebagai catatan, pada jaman dahulu kadang-kadang anak-anak mereka tidak tahu jika mereka akan menikah walapun kedua orangtua itu sudah saling sepakat untuk menikahkan anak-anak mereka.

2. Narosan (Ngalamar / Nyeureuhan)
Saat pihak laki-laki bertamu untuk yang kedua-kalinya, hal ini desebut Narosan (Ngalamar / Nyeureuhan). Nama ini diambil dari nama barang yang dibawa pada jaman dahulu, yaitu lemareun yang berupa sirih, gambir dan apu
Barang-barang yang dibawa dalam pelaksanaan acara (upacara) ngalamar ini tidak lepas dari arti dan makna seperti :

  1. Sirih, bentuknya segitiga meruncing ke bawah kalau dimakan rasanya pedas. Gambir  rasanya pahit dan kesat. Apu rasanya pahit. Tapi kalau sudah menyatu rasanya jadi enak dan dapat menyehatkan tubuh dan mencegah bau mulut.
  2. Cincin meneng, yaitu cincin tanpa sambungan, mengandung makna bahwa rasa kasih dan sayang yang tidak ada putusnya.
  3. Pakian perempuan, mengandung makna  sebagai tanda mulainya tanggung jawab dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan.
  4. Beubeur tameuh (ikat pinggang yang biasa dipakai kaum perempuan setelah melahirkan), mengandung makna sebagai tanda adanya ikatan lahir dan batin antara kedua belah pihak.
  5. Uang yang jumlahnya 1/10 dari jumlah yang akan dibawa pada waktu seserahan. Pemberian sejumlah uang dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan ini menandakan bahwa pihak laki-laki ikut andil soal pendanaan pada saat acara pernikahan kelak.
3. Nyandakeun atau Seserahan            
Setelah melamar, dan dinyatakan diterima, pihak laki-laki bertamu untuk yang ke-tiga kalinya. Upacara ini adalah upacara Seserahan atau lazim disebut Nyandakeun, yaitu menyerahkan calon pangantin laki-laki kepada pihak calon pengantin perempuan, sekalian menyerahkan keperluan-keperluan untuk acara resepsi pernikahan. Adapun jumlah uang yang diberikan pada saat itu biasanya jumlahnya 10 kali jumlah pada waktu melamar. Di jaman sekarang, biasanya pemasrahan calon pengantin laki-laki dilaksanakan pada saat sebelum akad nikah dilaksanakan. Atau pada acara seren tampi.

4. Ngecagkeun  Aisan
Upacara ini dilaksanakan oleh pihak calon pengantin perempuan di kediamannya sehari sebelum upacara pernikahan. Makna dari upacara Necagkeun Aisan ini adalah sebagai arti lepasnya tanggung jawab orangtua dalam menafkahi dan membimbing calon pengantin.
Properti yang digunakan pada upcara Necagkeun Aisan diantaranya yaitu :
-         Palika atau pelita atau menggunakan lilin yang berjumlah tujuh buah. Hal ini mengandung makna yaitu jumlah hari dalam seminggu.
-         Kain putih, yang mengandung makna niat suci.
-         Bunga tujuh rupa (kembang setaman), mengandung makna bahwa perilaku kita, selama tujuh hari dalam seminggu harus “wangi” yang artinya baik.
-         Bunga hanjuang, mengandung makna bahawa kedua calon pengantin akan memasuki alam baru yaitu alam berumah tangga.
Langkah-langkah pelaksanaan upacara Necagkeun Aisan adalah sebagai berikut :

  1. Orang tua calon pengantin perempuan keluar dari kamar dengan membawa lilin/ palika yang sudah menyala.
  2. Diikuti oleh calon pengantin perempuan yang secara simbolis digendong oleh ibunya. Hal ini dilakukan dengan cara dililit (diais) oleh ibunya. 
  3. Setelah sampai di tengah rumah kemudian kedua orang tua calon pengantin perempuan duduk di kursi yang telah dipersiapkan.
  4. Upacara ini diiring oleh alunan kecapi dan suling dengan lagu ayun ambing untuk membuat suasana menjadi khidmat.

5. Ngaras

Ngaras artinya membasuh kedua telapak kaki. Calon pengantin perempuan membasuh telapak kaki ayah dan ibunya sebagai tanda baktinya kepada orangtua yang membesarkannya dan memohon ijin untuk menikah. Pelaksanaan upacara ini dilaksanakan setelah upacara ngecagkeun aisan.
Tata cara pelaksanaanya sebagai berikut :

  • Calon pengantin perempuan bersujud lalu membasuh telapak kaki ayah dan ibunya, kemudian sungkem dipangkuan kedua orangtuanya  sambil berkata :
“Ema, Bapa , disuhunkeun wening galihna, jembar manah ti salira.
Kersa ngahapunten kana sugrining kalelepatan sim abdi.
Rehing dina dinten enjing pisan sim abdi seja nohonan sunah rosul.
Hapunten Ema, hapunten Bapa hibar pangdu’a ti salira“

  • Orang tua calon perempuan menjawab sambil mengelus kepala anaknya :
“Anaking, Titipan Gusti Yang Widi!
Ulah salempang hariwang, hidep sieun teu tinemu bagja ti Ema sareng ti Bapa mah, pidu’a sareng pangampura, dadas keur hidep sorangan, geulis!”

  • Selanjutnya kedua orang tua calon pengantin perempuan membawa anaknya ke    tempat siraman melewati tujuh helai kain yang telah dipersiapkan untuk melaksanakan upacara siraman.
6. Siraman
Makna Upacara Siraman adalah memandikan calon pengantin perempuan dengan air yang telah dicampur dengan air bunga tujuh rupa (kembang setaman). Maksud dari upacara siraman adalah sebagai arti bahwa untuk menuju sebuah mahligai rumah tangga yang suci harus pula diawali dengan tubuh serta niat yang suci pula.
Tata cara upacara siraman :

  1. Membaca doa
  2. Sesudah membacakan do’a, orang tua laki-laki dari calon pengantin perempuan langsung menyiramkan air dimulai dari atas kepala hingga ujung kakinya. Setelah itu diteruskan oleh ibunya dengan pelaksanaan sama seprti tadi. Dan setelah itu dilanjutkan oleh para kerabat dengan jumlah harus “ganjil” (7, 9 atau 11) orang dan harus “sudah menikah”. Sedikit berbeda dengan adat Jawa, syarat sebagai “penyiram” calon pengantin dalam adat Jawa haruslah yang “sudah mantu”
  3. Pada siraman terakhir biasanya dilakukan dengan melafalkan jangjawokan (mantra-mantara) seperti berikut ini :
                         cai suci cai hurip
                         cai rahmat cai nikmat
                         hayu diri uarang mandi
                         nya mandi jeung para Nabi
                         nya siram jeung para malaikat
                         kokosok badan rohani
                        cur mancur cahayaning Allah
                        cur mancur cahayaning ingsun
                        cai suci badan suka
                        mulih badan sampurna
                        sampurna ku paraniama
 
7. Ngerik
Setelah melaksanakan upacara siraman rangkaian upacara selanjutnya yaitu, ngerik atau ngeningan. Yaitu mengerik bulu-bulu yang berada di sekitar wajah supaya hasil riasannya baik.
Mantera ketika melaksanakan upacara ngerik :
“Peso putih ninggang kana kulit putih
Cep tiis taya rasana
Mangka mumpung mangka melung
Maka eunteup maka sieup
Mangka meleng ka awakii”     

8. Ngeuyeuk Seureuh 
Kata ngeuyeuk berasal dari kata “ngaheuyeuk” yang berarti mengurus atau mengolah. Yaitu, mengurus lembaran-lembaran daun sirih disusun kedua lembar perut daun sirih (beuteung seureuh) disatukan selanjutnya diikat menggunakan tali dari benang (kanteh). Acara nyeuyeuk seureuh biasanya dihadiri oleh kedua calon pengantin beserta dengan keluarganya, yang dilaksanakan pada malam hari sebelum acara akad nikah di kediaman calon pengantin perempuan. Perlengkapan upacara ngeuyeuk suereuh ditaruh diatas selembar tikar pandan, kemudian ditutup memakai kain putih (kain mori). Pemandu acara kemudian memanggil orang-orang yang akan melaksanakan (membantu) upacara ngeuyeuk seureuh yang berjumlah tujuh orang. Kenapa tujuh? Karena angka tujuh dianggap keramat (sebagaimana dalam islam, angka tujuh mewakili 7 ayat dalam Surat Al-Fatihah).

Yang menyaksikan upacara ngeuyeuk seureuh umumnya kaum perempuan. Untuk membedakan antara pelaksana upacara dengan penonton biasanya menggunakan “benang putih”. Anak gadis atau jejaka dilarang menyaksikan upacara ini, karena dipercaya akan “sulit mendapatkan jodoh”.
Tata cara melaksanakan upacara ngeuyeuk seureuh :

  1. Pangeuyeuk” (tetua yang dipercaya atau pemandu acara) memberikan tujuh helai benang kanteh sepanjang dua jengkal kepada kedua calon pengantin untuk dipegang oleh masing masing pada tiap ujungnya, sambil duduk menghadap orangtua untuk meminta doa restu.
  2. Setelah itu pangeuyeuk membawakan kidung berupa doa–doa kepada Tuhan YME sambil menaburkan beras kepada kedua calon pengantin, dengan maksud agar keduanya kelak hidup sejahtera.
  3. Kemudian kedua calon pengantin “dikeprak” (dipukul pelan pelan) dengan sapu lidi, diiringi nasihat bahwa hidup berumah tangga kelak harus dapat memupuk kasih sayang antara keduanya.
  4. Selanjutnya membuka kain putih penutup “pangeyeukan“ yang berarti bahwa rumah tangga yang kelak akan dibina itu masih putih bersih dan hendaknya jangan sampai ternoda.
  5. Kedua calon pengantin mengangkat dua perangkat busana diatas sarung “polekat“ dan dibawa ke kamar pengantin untuk disimpan.
  6. Membelah mayang dan jambe (pinang), calon pengantin laki-laki membelah kembang mayang dengan hati-hati agar tidak rusak atau patah, melambangkan bahwa suami harus memperlakukan istrinya dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.
  7. Selanjutnya kedua pengantin dipersilahkan menumbuk “halu“ (alu) di dalam “lumpang“dengan cara keduanya duduk berhadapan, yang laki-laki memegang alu dan perempuan memegang lumpang.
  8. Membuat “lungkun” (gulungan daun sirih bertangkai yang telah dibubuhi apu dan gambir), dua lembar berhadapan digulung menjadi satu dengan bentuk memanjang, lalu diikat dengan benang kanteh . Hal ini dilakukan oleh kedua calon pengantin, orangtua serta para tamu yang hadir disitu melambangkan kerukunan. Kemudian sisa sirih dan tujuh buah tempat sirih yang telah diisi lengkap berikut padi, labu dan kelapa dibagikan kepada orang orang yang hadir disitu. Hal ini melambangkan bila di kemudian hari keduanya mendapat rejeki berlebih, hendaknya selalu ingat untuk berbagi dengan keluarga atau handai taulan yang kurang mampu.
  9. Dipimpin oleh pangeuyeuk dengan aba-aba, kedua pengantin berebut mencari uang, beras, kunyit dan permen yang di tebar di bawah tikar. Artinya suami dan istri harus bersama sama dalam mencari rejeki dalam rumah tangga.
  10. Kedua calon pengantin membuang bekas pangeuyeuk seureuh, biasanya dilakukan di simpang empat terdekat dari kediaman calon pengantin perempuan. Tradisi ini mengandung makna bahwa dalam memulai kehidupan yang baru, hendaknya membuang semua keburukan masa lalu dan menghindari kesalahan di masa datang.

II. Upacara Adat Sunda Akad Pernikahan


Pada hari yang telah ditetepkan dan disepakati oleh kedua keluarga calon pengantin. Rombongan keluarga calon pengantin laki-laki datang ke kediaman calon pengantin perempuan. Selain membawa mas kawin, biasanya juga membawa barang-barang seperti peralatan dapur, perabotan kamar tidur, kayu bakar, gentong atau gerabah untuk menyimpan beras.
Bagi calon pengantin yang beragama Islam, susunan acara upacara akad nikah, biasanya seperti berikut ini :
1. Pembukaan
  • Penjemputan calon pengantin laki-laki oleh pihak calon pengantin perempuan. Upacara ini disebut mapag (menjemput)
  • Mengalungkan untaian bunga melati
  • Gunting pita
2. Penyerahan calon pengantin laki-laki     
  •  Yang mewakili pemasrahan calon penganti laki-laki biasanya diwakilkan kepada orang yang dituakan (ahli berpidato)
  • Yang menerima dari perwakilan calon pengantin perempuan juga biasanya diwakilkan.
3. Akad Nikah / Ijab Qobul Kedua pengantin diserahkan kepada petugas dari Kantor Urusan Agama (KUA). Acara dipimpin oleh petugas KUA.
4. Menyerahkan mas kawin (mahar).
Pengantin laki-laki menyerahkan mahar kepada pengantin perempuan. Kemudian pengantin perempuan mencium tangan pasangannya.
5. Sungkeman Kedua pengantin melakukan sungkeman meminta do’a dan restu dari kedua orangtua dan sesepuh dalam keluarga mereka.

III. Upacara Adat Sunda Setelah Akad Pernikahan


Setelah melaksanakan akad nikah kedua pengantin masih harus melakukan serangkaian upacara adat yang disebut bantayan. Orang yang memimpin upacara ini harus orang yang mempunyai watak humor. Adapun acara adat yang dilakukan pada upacara bantayan adalah sebagai berikut :

1. Sawer
Sawer merupakan upacara memberi nasihat kepada kedua pengantin yang dilaksanakan setelah acara akad nikah. Kata sawer berasal dari kata panyaweran yang dalam bahasa Sunda berarti tempat jatuhnya air dari atap rumah atau ujung genting bagian bawah. Kata sawer ini diambil dari tempat berlangsungnya upacara adat tersebut yaitu di teras rumah tempat jatuhnya air dari genting.

Bahan-bahan yang diperlukan dan digunakan  dalam  upacara sawer ini mempunyai arti dan maksud yang hendak disampaikan kepada pengantin baru, seperti :
-         Beras, yang mengandung arti kemakmuran. Makna di dalamnya adalah semoga setelah berumah tangga, pengantin bisa hidup makmur.
-         Uang recehan, yang juga mengandung arti kemakmuran. Makna di dalamnya adalah apabila mendapatkan kemakmuran dan kesejahteraan kita harus ikhlas berbagi dengan fakir, miskin dan yatim.
-         Kembang gula, dapat diartikan semoga dalam berumah tangga mendapatkan manisnya kehidupan berkeluarga.
-         Kunyit, diartikan sebagai kejayaan. Makna di dalamnya adalah semoga dalam hidup berumah tangga bisa meraih kejayaan.

Semua bahan dan kelengkapan itu dimasukkan dalam satu bokor. Kemudian dilemparkan oleh orangtua pengantin (biasanya oleh ibu masing-masing pengantin) kearah pengantin yang duduk berdampingan dan menghadap arah rumah kediaman pengantin perempuan dengan diiringi kidung sawer. Hadirin yang mengikuti upacara sawer ini boleh berebut untuk mendapatkan uang receh dan kembang gula. Hal ini melambangkan pengantin beserta keluarga berbagi rejeki dan kebahagiaan kepada sesama.

Pada jaman sekarang, tetua yang memimpin upacara sawer ini ada yang memodifikasinya dengan mengganti kunyit dan beras dengan kupon yang dapat ditukarkan dengan hadiah berbagai macam seperti handuk, kain, sarung dan berbagai peralatan rumah tangga. Hal ini dilakukan semata untuk menambah kemeriahan upacara.
Syair-syair yang dinyanyikan pada upacara adat sawer adalah sebagai berikut :
 
KIDUNG SAWER
Pangapunten kasadaya
Kanu sami araya
Rehna bade nyawer heula
Ngedalkeun eusi werdaya
Dangukeun ieu piwulang
Tawis nu mikamelang
Teu pisan dek kumalancang
Megatan ngahalang-halang
Bisina tacan kaharti
Tengetkeun masing rastiti
Ucap lampah ati-ati
Kudu silih beuli a
Lampah ulah pasalia
Singalap hayang waluya
Upama pakiya-kiya
Ahirna matak pasea

2. Meuleum Harupat (membakar lidi )
Meuleum Harupat diawali dengan kedua pengantin saling berhadapan. Pengantin laki-laki memegang batang harupat (lidi) yang menyala karena terbakar api, sementara pengantin perempuan memegang kendi berisi air. Harupat yang sudah menyala kemudian dimasukan ke dalam kendi yang dipegang oleh pengantin perempuan, lalu diangkat kembali setelah nyala apinya padam dan dipatahkan menjadi dua bagian, kemudian di buang jauh-jauh ke belakang tanpa harus menoleh.
Upacara ini memberikan nasihat kepada kedua pengantin untuk senantiasa bersama dalam memecahkan persoalan dalam rumah tangga. Fungsi istri yang memegang kendi berisi air adalah untuk mendinginkan setiap persoalan yang membuat pikiran dan suasana hati suami tidak nyaman.

3. Nincak Endog (menginjak telur)
Pengantin laki-laki menginjak telur di baik papan dan elekan (batang bambu muda), kemudian pengantin perempuan mencuci kaki pengantin laki-laki dengan air di kendi, mengelapnya sampai kering lalu kendi dipecahkan berdua. Upacara ini melambangkan pengabdian istri kepada suami dimulai dari hari itu.

4. Buka Pintu
Diawali mengetuk pintu tiga kali. Diadakan tanya jawab dengan pantun bersahutan dari dalam dan luar pintu rumah. Setelah kalimat syahadat dibacakan, pintu dibuka. Pengantin masuk menuju pelaminan..Dialog pengantin perempuan dengan pengantin laki-laki seperti berikut ini :

KENTAR BAYUBUD

Istri :
Saha eta anu kumawani
Taya tata taya bemakrama
Ketrak- ketrok kana panto
Suami :
Geuning bet jadi kitu
Api-api kawas nu pangling
Apan ieu teh engkang
Hayang geura tepung
Tambah teu kuat ku era
Da diluar seueur tamu nu ningali
Istri :
Euleuh karah panutan

5. Huap lingkung
Setelah buka pintu dilaksanakan kedua pengantin dipertemukan, dan dibawa ke kamar pengantin untuk melaksanakan upacara huap lingkung.Perlengkapan yang harus disediakan seperti : sepasang merpati, bekakak ayam,nasi kuning, dll.

6. Ngaleupaskeun Japati (melepas merpati)
Ibunda kedua pengantin berjalan menuju halaman rumah, masing-masing membawa burung merpati yang kemudian dilepaskan di halaman.
Upacara ini melambangkan bahwa peran orangtua sudah berakhir hari itu karena kedua anak mereka dianggap telah mandiri dan siap mengarungi bahtera rumah tangga.

7. Huap Lingkung
Sebelum upacara ini dimulai, telah disediakan tujuh bulatan nasi punar (nasi ketan kuning) di atas piring. Piring berisi bulatan nasi punar itu ditaruh di atas meja setinggi lutut (meja tamu) beserta cangkir berisi air putih untuk minum, sementara kedua pengantin duduk bersanding di hadapannya.

  • Pasangan pengantin disuapi oleh kedua orangtua masing-masing pengantin. Dimulai oleh kedua ibunda yang dilanjutkan oleh kedua ayahanda.
  • Kedua pengantin saling menyuapi melalui bahu masing-masing dengan cara melingkarkan satu tangan ke bahu pasangannya (merangkul). Satu bulatan (nasi punar) terakhir diperebutkan keduanya dan dibelah dua, lalu disuapkan kepada pasangan.
Upacara ini melambangkan suapan terakhir dari orangtua karena setelah ini anak mereka telah berkeluarga dan harus mencari sendiri sumber kebutuhan hidup mereka. Di samping itu, juga melambangkan bahwa kasih sayang kedua orangtua terhadap anak dan menantu sama besarnya.

8. Pabetot Bakakak
Setelah huap lingkung dilaksanakan, keduanya duduk berhadapan sambil tangan kanan mereka memegang kedua paha ayam bakakak di atas meja, kemudian pemandu acara memberi aba–aba , kedua mempelai serentak menarik bakakak ayam tersebut hinggak terbelah. Yang mendapat bagian terbesar, harus membagi dengan pasangannya dengan cara digigit bersama.
Melambangkan bahwa berapapun rejeki yang didapat, harus dibagi berdua dan dinikmati bersama.


* Disarikan dari beberapa sumber
 
 

SEKILAS PERNIKAHAN ADAT JAWA SURAKARTA

Pasang Tarub

Sehari sebelum pernikahan, biasanya gerbang rumah pengantin perempuan akan dihiasi Tarub atau janur kuning yang terdiri dari berbagai macam tumbuhan dan daun-daunan:
·    2 pohon pisang dengan setandan pisang masak pada masing-masing pohon, melambangkan suami yang akan menjadi kepala rumah tangga yang baik dan pasangan yang akan hidup baik dan bahagia dimanapun mereka berada (seperti pohon pisang yang mudah tumbuh dimanapun).
·    Tebu Wulung atau tebu merah, yang berarti keluarga yang mengutamakan pikiran sehat.
·    Cengkir Gading atau buah kelapa muda, yang berarti pasangan suami istri akan saling mencintai dan saling menjagai dan merawat satu sama lain.
·    Berbagai macam daun seperti daun beringin, daun mojo-koro, daun alang-alang, dadap serep, sebagai simbol kedua pengantin akan hidup aman dan keluarga mereka terlindung dari mara bahaya.
Selain itu di atas gerbang rumah juga dipasang beleketepe yaitu hiasan dari daun kelapa untuk mengusir roh-roh jahat dan sebagai tanda bahwa ada acara pernikahan sedang berlangsung di tempat tersebut.
Sebelum Tarub dan janur kuning tersebut dipasang, sesajen atau persembahan sesajian biasanya dipersiapkan terlebih dahulu. Sesajian tersebut antara lain terdiri dari: pisang, kelapa, beras, daging sapi, tempe, buah-buahan, roti, bunga, bermacam-macam minuman termasuk jamu, lampu, dan lainnya.
Arti simbolis dari sesajian ini adalah agar diberkati leluhur dan dilindungi dari roh-roh jahat. Sesajian ini diletakkan di tempat-tempat dimana upacara pernikahan akan dilangsungkan, seperti kamar mandi, dapur, pintu gerbang, di bawah Tarub, di jalanan di dekat rumah, dan sebagainya.
Dekorasi lain yang dipersiapkan adalah Kembar Mayang yang akan digunakan dalam upacara panggih

Upacara Siraman

Acara yang dilakukan pada siang hari sebelum Ijab atau upacara pernikahan ini bertujuan untuk membersihkan jiwa dan raga. Siraman biasanya dilakukan di kamar mandi atau taman keluarga masing-masing dan dilakukan oleh orang tua atau wakil mereka.
Ada tujuh Pitulungan atau penolong (Pitu artinya tujuh)- biasanya tujuh orang yang dianggap baik atau penting - yang membantu acara ini. Airnya merupakan campuran dari kembang setaman yang disebut Banyu Perwitosari yang jika memungkinkan diambil dari tujuh mata air dan melambangkan kehidupan. Keluarga pengantin perempuan akan mengirim utusan dengan membawa Banyu Perwitosari ke kediaman keluarga pengantin pria dan menuangkannya di dalam rumah pengantin pria. Acara siraman diawali oleh orang tua dan ditutup oleh Pemaes yang kemudian dilanjutkan dengan memecahkan kendi.

Perlengkapan yang harus dipersiapkan sebelum acara dimulai:
·    Tempat air dari perunggu atau tembaga yang berisi air dari tujuh mata air.
·    Kembang setaman yaitu bunga-bunga seperti mawar, melati, cempaka, kenanga, yang ditaruh di air.
·    Aroma lima warna yang digunakan sebagai sabun.
·    Sabun cuci rambut tradisional dari abu dari merang, santan, dan air asam Jawa.
·    Gayung yang berasal dari kulit kelapa sebagai ciduk air.
·    Kursi yang dilapisi tikar, kain putih, dedaunan, kain lurik untuk tempat duduk pengantin selama prosesi siraman.
·    Kain putih untuk dipakai selama upacara siraman.
·    Baju batik untuk dipakai setelah uparaca siraman.
·    Kendi.
·    Sesajian

Sesajian merupakan hal yang dianggap penting dalam upacara Jawa. Sesajian untuk siraman terdiri dari berbagai macam sajian:
·    Tumpeng Robyong, nasi kuning dengan hiasan-hiasan.
·    Tumpeng Gundhul, nasi kuning tanpa hiasan.
·    Makanan seperti ayam, tahu, telur.
·    Buah-buahan seperti pisang dan lain-lain.
·    Kelapan muda.
·    Tujuh macam bubur.
·    Jajanan seperti kue manis, lemper, cendol.
·    Seekor ayam jago
·    Lampu lentera
·    Kembang Telon - tiga macam bunga (kenanga, melati, cempaka).

Urut-urutan acara siraman adalah sebagai berikut:
·    Pengantin pria / perempuan dengan rambut terurai keluar dari kamarnya diiringi oleh orangtuanya masing-masing.
·    Pengantin tersebut berjalan menuju tempat siraman.
·    Beberapa orang berjalan di belakang mereka membawa baju batik, handuk, dan sebagainya.
·    Pengantin tersebut duduk di kursi dan memanjatkan doa.
·    Sang ayah memandikan sang pengantin, disusul oleh sang ibu.
·    Sang pengantin duduk dengan kedua tangan diletakkan di depan dalam posisi berdoa.
·    Mereka menuangkan air ke atas tangannya dan sang pengantin berkumur tiga kali.
·    Lalu mereka menuangkan air ke atas kepalanya, muka, telinga, leher, tangan dan kaki masing masing tiga kali.
·    Setelah orangtua menyelesaikan prosesi siraman disusul oleh empat orang lain yang dianggap penting.
·    Orang terakhir yang memandikan sang pengantin adalah Pemaes atau orang lain yang dianggap spesial.
·    Setelah itu acara pecah kendi yang dilakukan oleh ibu pengantin perempuan.
·    Sang pengantin akan mengenakan baju batik kemudian diiringi kembali ke kamar pengantin dan bersiap siap untuk acara Midodaren

Pecah Kendi
Kendi yang digunakan untuk siraman diambil. Ibu pengantin perempuan atau Pameas(untuk siraman pengantin pria) atau orang yang terakhir akan memecahkan kendi dan mengatakan: "Wis Pecah Pamore" - artinya sekarang sang pengantin siap untuk menikah.
Pangkas Rikmo lan Tanam Rikmo
Acara memotong sedikit rambut pengantin perempuan dan potongan rambut tersebut ditanam di rumah belakang.

Gendhongan
Kedua orangtua pengantin perempuan menggendong anak mereka yang melambangkan ngentaske artinya mengentaskan seorang anak
Dodol Dhawet
Kedua orangtua pengantin wanita berjualan minuman dawet yaitu minuman manis khas Solo, tujuannya agar banyak tamu yang datang.


Upacara Midodareni

Acara ini dilakukan pada malam hari sesudah siraman. Midodaren berarti menjadikan sang pengantin perempuan secantik Dewi Widodari atau Bidadari. Pengantin perempuan akan tinggal di kamarnya mulai dari jam enam sore sampai tengah malam dan ditemani oleh kerabat-kerabatnya yang perempuan. Mereka akan bercakap-cakap dan memberikan nasihat kepada pengantin perempuan.
Orangtua pengantin perempuan akan memberinya makan untuk terakhir kalinya, karena mulai besok ia akan menjadi tanggung jawab suaminya.

Peningsetan

Peningsetan yang berasal dari kata 'singset' atau langsing, memiliki arti untuk mempersatukan; Kedua keluarga mempelai setuju untuk kedua anak mereka disatukan dalam tali pernikahan. Keluarga pengantin pria datang berkunjung ke kediaman keluarga pengantin perempuan membawa berbagai macam hadiah:
·    Satu set Suruh Ayu (semacam daun yang wangi), mendoakan keselamatan.
·    Pakaian batik dengan motif yang berbeda-beda, mendoakan kebahagiaan.
·    Kain kebaya, mendoakan kebahagiaan.
·    Ikat pinggang kain (setagen) bewarna putih, melambangkan kemauan yang kuat dari mempelai perempuan
·    Buah-buahan, mendoakan kesehatan.
·    Beras, gula, garam, minyak, dll, melambangkan kebutuhan hidup sehari-hari.
·    Sepasang cincin untuk kedua mempelai.
·    Sejumlah uang untuk digunakan di acara pernikahan.
Acara ini disebut juga acara serah-serahan - bisa diartikan sang calon mempelai perempuan 'diserahkan' kepada keluarga calon mempelai pria sebagai menantu mereka atau calon mempelai pria nyantri di kediaman keluarga calon mempelai perempuan.
Pada masa kini, demi alasan kepraktisan, kedua belah pihak kadang-kadang dapat berbicara langsung tanpa upacara apapun. Selain menghemat waktu dan uang, juga langsung pada pokok persoalan.
Sesajian untuk upacara midodaren:
·    Nasi dimasak dengan santan.
·    Ayam inkung yang telah dimasak
·    Bumbu sayuran
·    Kembang telon
·    Teh dan kopi pahit
·    Minuman kelapa muda dengan gula kelapa
·    Lampu lentera yang dinyalakan
·    Pisang Raja
·    Kembang setaman
·    Lemper, kue
·    Rokok dan kretek
Barang-barang yang ditaruh di kamar pengantin:
·    Satu set Kembar Mayang.
·    Dua kendi yang diisi bumbu, jamu, beras, kacang, dll, dan ditutupi kain batik.
·    Dua kendi yang berisi air kembang setaman ditutupi daun dadap serep.
·    Ukub yaitu sebuah nampan berisi wangi-wangian daun dan bunga yang diletakkan di bawah tempat tidur.
·    Suruh Ayu
·    Kacang
·    Tujuh macam kain tradisional.
Makanan sesajian dapat dikeluarkan dari kamar setelah tengah malam. Sanak keluarga dan para tamu dapat memakannya. Pada jaman dahulu, acara temu keluarga antara kedua keluarga pengantin dilakukan setelah tengah malam, namun sekarang ini, dengan alasan kepraktisan, kedua keluarga dapat bertemu seperti yang disebutkan di atas.

Nyantri
Selama acara midodaren berlangsung, calon mempelai pria tidak boleh masuk menemui keluarga calon mempelai perempuan. Selama keluarganya berada di dalam rumah, ia hanya boleh duduk di depan rumah ditemani oleh beberapa teman atau anggota keluarga. Dalam kurun waktu itu, ia hanya boleh diberi segelas air, dan tidak diperbolehkan merokok. Sang calon mempelai pria baru boleh makan setelah tengah malam. Hal itu merupakan pelajaran bahwa ia harus dapat menahan lapar dan godaan. Sebelum keluarganya meninggalkan rumah tersebut, kedua orangtuanya akan menitipkan anak mereka kepada keluarga calon mempelai perempuan, dan malam itu sang calon mempelai pria tidak akan pulang ke rumah. Setelah mereka keluar dari rumah dan pulan, calon mempelai pria diijinkan masuk ke rumah namun tidak diijinkan masuk ke kamar pengantin. Calon mertuanya akan mengatur tempat tinggalnya malam itu. Ini disebut dengan Nyantri. Nyantri dilakukan untuk alasan keamanan dan praktis, mengingat bahwa besok paginya calon pengantin akan didandani dan dipersiapkan untuk acara Ijab dan acara-acara lainnya.


Upacara Akad Nikah / Ijab Qobul

Ijab atau ijab kabul adalah pengesahan pernihakan sesuai agama pasangan pengantin. Secara tradisi dalam upacara ini keluarga pengantin perempuan menyerahkan / menikahkan anaknya kepada pengantin pria, dan keluarga pengantin pria menerima pengantin wanita dan disertai dengan penyerahan emas kawin bagi pengantin perempuan. Upacara ini disaksikan oleh pejabat pemerintah atau petugas catatan sipil yang akan mencatat pernikahan mereka di catatan pemerintah.

Pawai (untuk anggota kerajaan)
Untuk pernikahan anggota kerajaan Surakarta, setelah upacara panggih diakhiri dengan pawai yang meriah agar seluruh warga kota Solo dapat melihat anggota kerajaan yang baru menikah. Pada acara ini seluruh anggota keraton termasuk tentara keraton berpakaian serba tradisional.
Jika yang menikah adalah seorang pangeran, maka sang pangeran mengendarai kuda di bagian paling belakang pawai, di belakang kereta kerajaan yang berisi sang istri pangeran.
Prosesi pawai mengelilingi halaman keraton selama satu kali kemudian iring-iringan akan memasuki halaman keraton.


UPACARA PANGGIH/TEMU (mengawali acara resepsi)

Pada upacara ini kembar mayang akan dibawa keluar rumah dan diletakan di persimpangan dekat rumah yang tujuannya untuk mengusir roh jahat. Kembar mayang adalah karangan bunga yang terdiri dari daun-daun pohon kelapa yang ditancapkan ke sebatang tanggul kelapa. Dekorasi ini memiliki makna yang luas:
·    Berbentuk seperti gunung, tinggi dan luas, melambangkan seorang laki-laki harus berpengetahuan luas, berpengalaman, dan sabar.
·    Hiasan menyerupai keris, pasangan harus berhati-hati di dalam hidup mereka.
·    Hiasan menyerupai cemeti, pasangan harus selalu berpikir positif dengan harapan untuk hidup bahagia.
·    Hiasan menyerupai payung, pasangan harus melindungi keluarga mereka.
·    Hiasan menyerupai belalang, pasangan harus tangkas, berpikir cepat dan mengambil keputusan untuk keselamatan keluarga mereka.
·    Hiasan menyerupai burung, pasangan harus memiliki tujuan hidup yang tinggi.
·    Daun beringin, pasangan harus selalu melindungi keluarga mereka dan orang lain.
·    Daun kruton, melindungi pasangan pengantin dari roh-roh jahat.
·    Daun dadap serep, daun ini dapat menjadi obat turun panas, menandakan pasangan harus selalu berpikiran jernih dan tenang dalam menghadapi segala permasalahan (menenangkan perasaan dan mendinginkan kepala).
·    Bunga Patra Manggala, digunakan untuk mempercantik hiasan kembar mayang.
Sebagai hiasan, sepasang kembar mayang diletakkan di samping kanan dan kiri tempat duduk pengantin selama resepsi pernikahan. Kembar mayang hanya digunakan jika pasangan pengantin belum pernah menikah sebelumnya.
Setelah itu pengantin laki-laki (dengan ditemani kerabat dekatnya (orang tuanya tidak boleh menemaninya dalam acara ini) tiba di depan gerbang rumah pengantin perempuan dan pengantin perempuan keluar dari kamar pengantin dengan diapit oleh dua orang tetua perempuan dan diikuti dengan orangtua dan keluarganya. Di depannya dua anak perempuan (yang disebut Patah) berjalan dan dua remaja laki-laki berjalan membawa kembar mayang dan kemudian melanjutkan upacara dengan melakukan beberapa ritual:

Temu Panggih
Penyerahan pisang sanggan berupa gedang ayu suruh ayu sebagai tebusan atau syarat untuk pengantin perempuan.

Penyerahan Cikal
Sebagai tanda agar kehidupan mendatang menjadi orang berguna dan tak kurang suatu apapun.

Tukar Manuk Cengkir Gading
Acara tukar menukar kembang mayang diawali tukar menukar manuk cengkir gading, sebagai simbol agar kedua pengantin menjadi pasangan yang berguna bagi keluarga dan masyarakat

Balangan Suruh

Pada saat jarak mereka sekitar tiga meter, mereka saling melempar tujuh bungusan yang berisi daun sirih, jeruk, yang ditali dengan benang putih. Mereka melempar dengan penuh semangat dan tertawa. Dengan melempar daun sirih satu sama lain, menandakan bahwa mereka adalah manusia, bukan makhluk jadi-jadian yang menyamar jadi pengantin. Selain itu ritual ini juga melambangkan cinta kasih dan kesetiaan.

Wiji Dadi
Mempelai laki-laki menginjak telur ayam hingga pecah dengan kaki kanan, kemudian pengantin perempuan akan membasuh kaki sang suami dengan air bunga. Proses ini melambangkan seorang suami dan ayah yang bertanggung jawab terhadap keluarganya dan istri yang taat melayani suaminya

Pupuk
Ibu pengantin perempuan yang mengusap pengantin laki-laki sebagai tanda ikhlas menerimanya sebagai bagian dari keluarga.

Sindur Binayang
Di dalam ritual ini ayah pengantin perempuan menuntun pasangan pengantin ke kursi pelaminan, ibu pengantin perempuan menyampirkan kain sindur sebagai tanda bahwa sang ayah menunjukkan jalan menuju kebahagiaan dan sang ibu memberikan dukungan moral.

Timbang / Pangkon

Di dalam ritual ini pasangan pengantin duduk di pangkuan ayah pengantin perempuan, dan sang ayah akan berkata bahwa berat mereka sama, berarti bahwa cinta mereka sama-sama kuat dan juga sebagai tanda kasih sayang orang tua terhadap anak dan menantu sama besarnya.

Tanem
Di dalam ritual ini ayah pengantin perempuan mendudukkan pasangan pengantin di kursi pengantin sebagai tanda merestui pernikahan mereka dan memberikan berkat.

Tukar Kalpika
Mula-mula, pengantin pria meninggalkan kamarnya dengan diapit oleh anggota laki-laki keluarga (saudara laki-laki dan paman-paman). Seorang anggota keluarga yang dihormati terpilih untuk berperan sebagai kepala rombongan. Pada waktu bersamaan, pengantin perempuan juga meninggalkan kamar sambil diapit oleh bibi-bibinya untuk menemui pengantin pria. Sekarang kedua pengantin duduk di meja dengan wakil-wakil dari masing-masing keluarga, dan kemudian saling menukarkan cincin sebagai tanda cinta.

Kacar-kucur / Tampa Kaya / Tandur
Dengan bantuan Pemaes, pasangan pengantin berjalan dengan memegang jari kelingking pasangannya, ke tempat ritual kacar-kucur atau tampa kaya. Pengantin pria akan menuangkan kacang kedelai, kacang tanah, beras, jagung, beras ketan, bunga dan uang logam (jumlahnya harus genap) ke pangkuan perempuan sebagai simbol pemberian nafkah. Pengantin perempuan menerima hadiah ini dengan dibungkus kain putih yang ada di pangkuannya sebagai simbol istri yang baik dan peduli.

Dahar Kembul / Dahar Walimah
Kedua pengantin saling menyuapi nasi satu sama lain yang melambangkan kedua mempelai akan hidup bersama dalam susah dan senang dan saling menikmati milik mereka bersama. Pemaes akan memberikan sebuah piring kepada pengantin perempuan (berisi nasi kuning, telur goreng, kedelai, tempe, abon, dan hati ayam). Pertama-tama, pengantin pria membuat tiga bulatan nasi dengan tangan kanannya dan menyuapkannya ke mulut pengantin perempuan. Setelah itu ganti pengantin perempuan yang menyuapi pengantin pria. Setelah makan, mereka lalu minum teh manis.

Rujak Degan
Acara pembuka untuk anak pertama, memohon supaya segera memiliki anak. Rujak degan artinya agar dalam pernikahan selalu sehat sejahtera.

Bubak Kawah
Acara perebutan alat-alat dapur untuk anak pertama. Artinya agar pernikahan keduanya sehat dan sejahtera.

Tumplak Punjen
Acara awal untuk anak bungsu. Artinya segala kekayaan ditumpahkan karena menantu yang terakhir.

Mertui
Orang tua pengantin perempuan menjemput orang tua pengantin laki-laki di depan rumah untuk berjalan bersama menuju tempat upacara. Kedua ibu berjalan di muka, kedua ayah di belakang. Orangtua pengantin pria duduk di sebelah kiri pasangan pengantin, dan sebaliknya.
Sungkeman== Kedua pengantin bersujud memohon restu dari masing-masing orangtua. Pertama-tama ayah dan ibu pengantin perempuan, kemudian baru ayah dan ibu pengantin pria. Selama sungkeman, Pemaes mengambil keris dari pengantin pria, dan setelah sungkeman baru dikembalikan lagi.
Resepsi= = Setelah semua upacara selesai dilakukan, saatnya untuk resepsi pernikahan dan para tamu mulai makan dan minum makanan tradisional Solo dengan disertai tari tradisional Jawa dan musik gamelan. Acara foto-foto dan salam-salaman dengan kedua pengantin juga dilangsungkan.

** Disarikan dari berbagai sumber
 
First Post! 02/08/2010
 
Start blogging by creating a new post. You can edit or delete me by clicking under the comments. You can also customize your sidebar by dragging in elements from the top bar.